Kamis, 12 Juni 2014

Persalinan

PENDAMPINGAN PERSALINAN
Asuhan sayang ibu merupakan asuhan dengan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah untuk membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri,”Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?”atau “Apakah asuhan seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” (DepKes RI, 2004).
Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Enkin,et al, 2000). Antara lain juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan seperti ekstraksi vacum, cunam dan seksio cesarea. Persalinan juga akan berlangsung lebih cepat. (Enkin, et al, 2000).
Dukungan dalam persalinan seperti pujian, penentraman hati, tindakan untuk meningkatkan kenyamanan ibu, kontak fisik, penjelasan tentang yang terjadi selama persalinan dan kelahiran serta sikap ramah yang konstan. Tugas-tugas tersebut dapat dipenuhi oleh bidan. Namun, pada praktiknya bidan juga harus melakukan prosedur medis yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari ibu. (Nike Badhi Subeki, SKp, 2003)
Dalam hal ini, seorang wanita yang bersalin harus ditemani oleh orang yang ia percayai dan membuatnya merasa nyaman. Orang tersebut dapat berupa pasangannya, sahabatnya atau anggota keluarganya.
Di negara maju, wanita yang bersalin sering merasa terisolasi di dalam ruangan bersalin di RS besar yang dikelilingi oleh peralatan teknis serta tanpa dukungan dari pasangan atau anggota keluarganya. (Nike Badhi Subeki, SKp, 2003).
Di negara berkembang, beberapa RS besar terlalu dipadati oleh persalinan resiko rendah sehingga dukungan personal dan privasi tidak dapat diberikan. Di Indonesia, tidak semua RS mengizinkan suami atau anggota keluarga lainnya menemani ibu di ruang bersalin. Hampir seluruh persalinan berlangsung tanpa didamping oleh suami atau anggota keluarga lainnya.
1. Pengertian pendampingan
Pendampingan adalah perbuatan mendampingi, menemani dan menyertai dalam suka dan duka (Depdiknas, 2001). Keluarga adalah dua individu atau lebih yang tergabung menjadi satu hubungan darah, hubungan perkawinan, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi serta mempertahankan kebudayaan (Effendy, 1998).
2. Dukungan pendampingan persalinan
Pendampingan persalinan adalah asuhan yang sifatnya mendukung yaitu asuhan yang bersifat aktif dan ikut serta dalam kegiatan selama persalinan merupakan suatu standar pelayanan kebidanan, dimana ibu dibebaskan untuk memilih pendamping persalinan sesuai keinginannya, misalnya suami, keluarga atau teman yang mengerti tentang dirinya. Idealnya pendampingan ini dilaksanakan semenjak pra persalinan yang dapat membantu memutuskan rencana tempat persalinan, pemakaian alat kontrasepsi dan kejadian lain yang tidak diharapkan.
Hasil penelitian sehubungan dukungan persalinan
Field (2004)
Diketahui bahwa ibu-ibu yang mendapatkan massase dan pendampingan mengalami penurunan kejadian depresi, kecemasan dan nyeri serta perasaan yang positif. Pada kondisi ini ibu yang mendapatkan sentuhan berdampak signifikan terhadap lama persalinan lebih pendek (yaitu 8 jam dibandingkan dengan ibu yang persalinannya tidak didampingi waktu persalinannya 11  jam), menurunkan angka kejadian persalinan dengan tindakan, memperpendek waktu perawatan di RS dan mengurangi kejadian depresi post partum.
Odent dalam Simpkin (2004)
Jika wanita dibiarkan melahirkan “dengan cara sebagaimana mamalia”, maka persalinannya itu cenderung berlangsung tanpa kesulitan. Secara alamiah mamalia akan mencari tempat yang privasi, nyaman dan menyenangkan, tenang dengan pencahayaan yang kurang ketika mereka akan melahirkan.
Lingkungan seperti ini akan mengurangi aktivitas neokorteks dan memungkinkan otak tengah dan batang otak lebih berperan dalam mengatur kerja prostaglandin dan hormon-hormon yang memacu proses persalinan .
Odent mengatakan bahwa lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak familiar bagi si ibu dimana banyak orang asing, banyaknya sejumlah pertanyaan, cahaya yang terang berperan merangsang neokorteks menghasilkan kotekolamin yang dapat menghambat kemajuan persalinan.
Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO (2003)
Hasil penelitian secara random contolled trials telah memperlihatkan efektifnya dukungan fisik, emosional, dan psikologis selama persalinan dan kelahiran.
Cochrane database
Suatu kajian ulang sistematik dari 14 percobaan yang melibatkan 5000 wanita memperlihatkan bahwa kehadiran pendamping secara terus menerus selama persalinan dan kelahiran akan menghasilkan kelahiran dengan vakum dan forseps serta sectio cesarea (SC) semakin sedikit, skor apgar < 7 lebih sedikit, lamanya persalinan semakin memendek, dan kepuasan ibu yang semakin besar dalam pengalaman melahirkan.
Ball (1987), Hidnett dan Osborn (1989)
Riset yang dilakukan oleh Ball (1987) dan Hidnett serta Osborn (1989), menyatakan bahwa kehadiran support pada ibu selama persalinan akan menimbulkan kekuatan dan perasaan aman serta nyaman bagi ibu. Hal ini diasumsikan dengan menurunnya lama persalinan, penurunan komplikasi perinatal dan menurunkan kebutuhan pemberian oksitosin (Klaus et al 1986).
Dukungan persalinan
1.                              Sederhana
2.                              Efektif
3.                              Murah
4.                              Resiko rendah
5.                              Kemajuan persalinan bertambah baik
6.                              Hasil persalinan bertambah baik
Menurut Marshall (2000) menyebutkan bahwa dukungan pada persalinan dapat dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Dukungan fisik adalah dukungan lansung berupa pertolongan lansung yang diberikan oleh keluarga atau suami kepada ibu bersalin.
  2. Dukungan emosional adalah dukungan berupa kehangatan, kepedulian maupun ungkapan empati yang akan menimbulkan keyakinan bahwa ibu merasa dicintai dan diperhatikan oleh suami, yang pada akhirnya dapat berpengaruh kepada keberhasilan.
Persalinan adalah saat menegangkan dan menggugah emosi bagi ibu dan keluarga. Persalinan menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu, karena itu pastikan bahwa setiap ibu mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan dan kelahiran. Asuhan ibu yang dimaksud berupa dukungan emosional dari suami dan anggota keluarga lain untuk berada di samping ibu selama proses persalinan dan kelahiran. Suami dianjurkan untuk melakukan peran aktif dalam mendukung ibu dan mengidentifikasi langkah-langkah yang mungkin untuk kenyamanan ibu. Hargai keinginan ibu untuk menghadirkan teman atau saudara untuk menemaninya (Depkes RI,2002).
Dukungan suami dalam proses persalinan akan memberi efek pada sistem limbic ibu yaitu dalam hal emosi, emosi ibu yang tenang akan menyebabkan sel-sel neuronnya mensekresi hormon oksitosin yang reaksinya akan menyebabkan kontraktilitas uterus pada akhir kehamilan untuk mengeluarkan bayi (Guyton, 1997).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi peran pendamping persalinan
Menurut Hamilton (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi peran pendamping persalinan antara lain sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, pengetahuan, umur dan pendidikan.
4.    Peran pendamping
Menurut Hamilton (1995) menyatakan peran pendamping selama proses persalinan yaitu :
  1. Mengatur posisi ibu, dengan membantu ibu tidur miring atau sesuai dengan keinginan ibu disela-sela kontraksi dan mendukung posisi ini agar dapat mengedan secara efektif saat relaksasi.
  2. Mengatur nafas ibu, dengan cara membimbing ibu mengatur nafas saat kontraksi dan beristirahat saat relaksasi.
  3. Memberikan asuhan tubuh dengan menghapuskan keringat ibu, memegang tangan, memberikan pijatan, mengelus perut ibu dengan lembut.
  4. Memberi informasi kepada ibu tentang kemajuan persalinan.
  5. Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
  6. Membantu ibu ke kamar mandi.
  7. Memberikan cairan dan nutrisi sesuai keinginan ibu.
  8. Memberikan dorongan spiritual dengan ikut berdoa.
  9. Memberi dorongan semangat mengedan saat kontraksi serta memberikan pujian atas kemampuan ibu saat mengedan.
5.         Suami sebagai Pendamping persalinan
Menurut Lutfiatus Sholihah (2004) selama masa kehamilan, suami juga sudah harus diajak menyiapkan diri menyambut kedatangan sikecil, karena tidak semua suami siap mental untuk menunggui istrinya yang sedang kesakitan. Adakalanya mereka malah panik. Jadi persiapkan dari sekarang, ajak suami membaca buku tentang proses persalinan.
Menurut Dr. Ruth (2002) suami sebagai pendamping persalinan dapat melakukan hal sebagai berikut :
  1. Memberi dorongan semangat yang akan dibutuhkan jika persalinan lebih lama dari yang diperkirakan. Suami sebaiknya diberitahu terlebih dahulu bahwa jika istri berteriak padanya hanya karena sang istri tidak mungkin berteriak pada dokter.
  2. Memijat bagian tubuh, agar anda tidak terlalu tegang atau untuk mengalihkan perhatian istri dari kontraksi. Pukulan perlahan pada perut yang disebut effleurage, dengan menggunakan ujung jari merupakan pijatan yang disarankan.
  3. Memastikan istri merasa nyaman dengan menyediakan bantal, air, permen atau potongan es untuk istri atau memanggilkan perawat atau dokter jika istri membutuhkan bantuan.
  4. Memegang istri saat mengedan agar istri memiliki pegangan saat mendorong dan memimpin istri agar mengedan dengan cara yang paling efektif
Bila suami tidak bersedia mendampingi saat proses persalinan, ibu sebaiknya jangan berkecil hati, mungkin suami tidak tega melihat istrinya kesakitan, jadi jangan paksa suami karena hal ini bisa berakibat fatal. Kehadiran suami tanpa tekanan dari luar, pada proses persalinan akan sangat penting dalam membantu istri terutama jika suami tahu banyak tentang proses melahirkan. Para suami sering mengeluhkan betapa tertekannya mereka kerena sama sekali tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menolona istrinya. (Lutfiatus Sholihah, 2004:35).
Situasi atau kondisi dimana suami tidak bisa mendampingi selama proses persalinan seperti :
  1. Suami tidak siap mental
Umumnya, suami tidak tega, lekas panik, saat melihat istri kesakitan atau tidak tahan bila harus melihat darah yang keluar saat persalinan. Tipe suami seperti ini bukanlah orang yang tepat menjadi pendamping diruang bersalin.
  1. Tidak diizinkan pihak RS
Beberapa RS tidak mengizinkan kehadiran pendamping selain petugas medis bagi ibu yang menjalani proses persalinan, baik normal maupun cesar. Beberapa alasan yang diajukan adalah kehadiran pendamping dapat mengganggu konsentrasi petugas medis yang tengah membantu proses persalinan, tempat yang tidak luas dan kesterilan ruang operasi menjadi berkurang dengan hadirnya orang luar.
  1. Suami sedang dinas
Apabila suami sedang dinas ke tempat yang jauh sehingga tidak memungkinkan pulang untuk menemani istri bersalin tentu istri harus memahami kondisi ini. Walaupun tidak ada suami masih ada anggota keluarga lain seperti ibu yang dapat menemani. Momen persalinan pun dapat difilmkan dalam kamera video, sehingga saat kembali dari dinas suami dapat melihat kelahiran buah hatinya.
Namun bagi suami yang siap mental mendapingi istrinya selama proses persalinan dapat memberikan manfaat seperti :


1)            Memberi rasa tenang dan penguat psikis pada istri
               Suami adalah orang terdekat yang dapat memberikan rasa aman dan tenang yang diharapkan istri selama proses persalinan. Ditengah kondisi yang tidak nyaman, istri memerlukan pegangan, dukungan dan semangat untuk mengurangi kecemasan dan ketakutannya.
2)            Selalu ada bila dibutuhkan
               Dengan berada disamping istri, suami siap membantu apa saja yang dibutuhkan istri.
3)            Kedekatan emosi suami-istri bertambah
                        Suami akan melihat sendiri perjuangan hidup dan mati sang istri saat melahirkan anak sehingga membuatnya semakin sayang kepada istrinya.
4)            Menumbuhkan naluri kebapakan
5)            Suami akan lebih menghargai istri
Melihat pengorbanan istri saat persalinan suami akan dapat lebih menghargai istrinya dan menjaga perilakunya. Karena dia akan mengingat bagaimana besarnya pengorbanan istrinya.
Sebagai calon ayah, harusnya ia calon utama pendamping Anda. Konon suami akan punya ikatan batin yang lebih kuat apabila menyaksikan secara langsung proses kelahiran anaknya. Sayangnya, karena suatu sebab, tidak semua suami beruntung menyaksikan keajaiban di ruang bersalin. Jika Anda mau, ajak dia mempersiapkan diri jauh-jauh hari, seperti mengajukan cuti, menggali informasi seputar persalinan, dan yang paling penting siap mental menghadapi kejadian yang luar biasa itu.
         Tugas pada hari H:
a.          Menghitung kontraksi sejak di rumah.
b.         Mengurus transportasi dan administrasi di rumah sakit.
c.          Bicara pada dokter mewakili Anda.
d.         Membeli makanan atau keperluan lain.
e.          Membantu Anda mengambil posisi persalinan.
f.          Menyemangati saat mengejan.
g.         Mengontak pihak keluarga.
h.         Menggunting ari-ari.
i.           Mengadzani bayi.

  1. Pendamping lainnya dalam persalinan
Menurut Mary Nolan (2004) beberapa ibu memilih pasangan dan ibunya sendiri untuk menjadi pendamping persalinannya. Ada sebuah penelitian yang sangat baik yang menunjukkan bahwa pendukung wanita efektif dalam meningkatkan hasil persalinan dan membantu calon ibu merasa percaya diri dalm melaksakan tanggungjawab pengasuhan terhadap bayinya.
Meskipun demikian, jika seorang calon ibu memilih pendamping wanita, umumnya mereka adalah anggota keluarganya atau sahabatnya. Sebuah pilihan yang jelas bagi calon ibu adalah ibunya sendiri.
a.                               Ibu Kandung
Pengalamannya bisa diandalkan. Jauh-jauh hari Anda bisa minta nasihat ibu seputar proses persalinan. Berkat pengalamannya, ibu Anda tahu persis apa yang akan Anda lalui. Ibu juga merupakan orang yang paling lama mengenal Anda. Karenanya, kemungkinan beliau hapal bagaimana tabiat Anda dan tahu betul bagaimana cara membuat Anda merasa tenang dan nyaman.
Tugas pada hari H:
a)      Memastikan kelengkapan barang bawaan Anda.
b)      Mengurus makan dan minum Anda.
c)      Membantu Anda pergi ke toilet.
d)     Menyiapkan pakaian selama di rumah sakit.
e)      Membantu menenangkan Anda.
f)       Membuat Anda merasa nyaman dengan pijatan dan lain-lain

b.         Saudara atau Sahabat Perempuan
         Pengalih rasa sakit. Kekompakan dengan saudara ataupun sahabat perempuan biasanya membuat Anda merasa nyaman menerima dukungan darinya. Sebagai sesama wanita, Anda berdua saling memiliki rasa solidaritas dan empati yang besar.
Tugas pada hari H:
a.             Menemani Anda ngobrol menjelang proses persalinan.
b.            Membantu mengambilkan barang-barang yang Anda butuhkan.
c.             Membantu menyiapkan perlengkapan selama di rumah sakit.
d.            Menghubungi sanak kerabat.
e.             Membantu mendokumentasikan momen menjelang persalinan.
f.             Membantu Anda mengingat-ingat pelajaran di kelas senam hamil.
7.Calon Ibu Bebas Menentukan.
a)      Keluarga harus memberi kebebasan dan menghargai pilihan calon ibu dalam memilih calon pendamping persalinan. Siapa pun orangnya, dia adalah sosok yang dekat dengan calon ibu. Dengan begitu, dia tahu betul cara menenangkan dan apa yang harus dilakukan agar calon ibu merasa nyaman.
b)      Calon pendamping persalinan sebaiknya punya pengetahuan yang cukup tentang proses persalinan dan mengetahui rencana persalinan calon ibu. Dengan begitu, dia bisa menjadi perantara antara calon ibu dengan dokter. Misalnya, ketika calon ibu butuh obat atau meminta dokter membawa bayinya untuk proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
c)      Tak kalah penting, dia juga mesti stabil secara emosi dan mampu mempertahankan rasa humor. Jangan sampai karena tidak tega melihat proses persalinan yang lama, pendamping memaksa calon ibu untuk melakukan operasi caesar saja. Padahal, dokter masih membuka peluang untuk menjalani proses persalinan normal, sesuai keinginan calon ibu. Atau, menunjukkan kecemasannya sehingga bukannya tenang, calon ibu malah ketularan panik.
8.      Menyiapkan diri menjadi pendamping
      Orang yang Ibu minta mendampingi Ibu saat persalinan,  punya tanggung jawab besar. Ia harus siap mental dan fisik untuk menghadapi saat persalinan, sama seperti Ibu. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pendamping ibu:
a)      Setidaknya ia harus sudah mengikuti kelas prenatal with you.
b)      Memahami rencana persalinan ibu.
c)      Bisa membantu memijat punggung ibu untuk membuat ibu nyaman.
            Didampingi dengan orang-orang tercinta ketika menjalani proses persalinan merupakan hal yang sangat penting untuk memberikan dukungan mental kepada Ibu. Selain dukungan mental, pendamping persalinan juga penting untuk memastikan rencana persalinan yang sudah disusun oleh Ibu berjalan dengan lancar. Ibu tidak perlu memikirkan apa-apa, cukup berkonsentrasi kepada proses persalinan. Urusan lainnya, serahkan saja kepada pendamping yang menemani. Dengan adanya pendamping, Ibu pun akan terhindar dari stres.
            Tujuan hadirnya pendamping melahirkan adalah mendukung ibu selama proses persalinan dan kelahiran, mereka harus siap memperhatikan keinginan ibu dan menjadi perantara ibu atau tetap memperhatikan apa yang terjadi ketika ibu tidak mampu melakukannya. Mereka harus memiliki pengetahuan mengenai tahap-tahap persalinan yang telah berdiskusi dengan ibu mengenai bantuan yang dapat mereka berikan, baik berupa dukungan praktis seperti memijat atau membantu anda mendapatkan posisi persalinan, atau dengan memberikan semangat dan keyakinan.
            Banyak wanita merasa pijatan, khususnya pada pinggung bawah, sangat bermanfaat selama proses persalinan. Sensasi hangat dan tekanan dapat menenangkan dan sedikit meredakan nyeri selama proses persalinan. Pijatan merangsang tubuh untuk melepaskan endorphin, yang merupakan pereda tubuh alami, dan juga mengalihkan perhatian dari nyeri persalinan. Komunikasi merupakan kunci saat memijat.
           
           




DAFTAR PUSTAKA
Parker, Catherine, Littler. 2008. Konsultasi Kebidanan. Jakarta: Erlangga
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/memilih.pendamping.persalinan

http://www.askep-askeb.cz.cc/2009/09/peran-pendamping-selama-proses.html

Gizi Kesehatan

A.    METODE BIOKIMIA PENYAKIT GIZI
Biokimia yaitu penilaian status gizi dengan melakukan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode biokimia digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan  terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang  spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk  menentukan kekurangan gizi yang lebih spesifik. Ada beberapa indikator  laboratorium untuk menentukan status besi yaitu: hemoglobin, hematokrit, besi  serum, ferittin serum (Sf), transferin saturation (TS), free erytrosytes  prothophopyrin (FEP) (Supariasa, 2002). Didalam darah ada 3 faktor praksi protein, yaitu: albumin, globulin, fibrinogen. Pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam 2 bagian yaitu:  somatic protein  (terdapat di otot skeletal) dan  visceral protein  (terdapat di dalam organ tubuh seperti hati, ginjal, pancreas, jantung, dll).
Beberapa metode biokimia penyakit gizi sebagai berikut:
1.      KEP (Kekurangan Energi Protein)
Kurang energi protein adalah seseorang yang kurang gizi disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari  - hari dan atau gangguan penyakit tertentu. Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO  – NCHS. KEP merupakan defisiensi gizi (energi dan protein) yang paling berat dan meluas terutama pada balita. 
Analisis biokimia yang berkaitan dengan KEP yaitu menyangkut nilai protein tertentu dalam darah atau hasil metabolit dari protein yang beredar dalam darah dan yang dikeluarkan bersama urin. Jenis protein yang menggambarkan status gizi seseorang antara lain Prealbumin, Serum protein dan serum Albumin.
Tabel 1.1. Nilai Prealbumin dalam kaitannya dengan Status Gizi
Status gizi
Nilai prealbumin µg/dl
Baik*)
Gizi sedang*)
Gizi kurang*)   Marasmus**)
Gizi buruk*)   Marasmus Kwashiorkor*)
  •                    **) 
  •  Kwashiorkor**)
23.8 +/-0.9
16.5 +/- 0.8
12.4 +/- 1.0
7.6 +/- 0.6
3.3 +/- 0.2
3.2 +/- 0.4
Keterangan :
*) Menurut klasifikasi Waterlow
**) Menurut klasifikasi Welcome

Tabel 1.2. Batasan dan Interpretasi Kadar Serum Protein dan Serum Albumin
No
Senyawa & satuan
Umur (tahun)
Kriteria
Kurang
Margin
Cukup
1
Serum Albumin (gr/100 ml)
< 1
1 – 5
6 – 16
16+
Wanita hamil
-
-
-
<2.8
<3.0
<2.8
<3.0
<3.5
2.8-3.4
3.0-3.4
2.5+
3.0+
3.5+
3.5+
3.5+
2
Serum Protein (gr/100 ml)
< 1
1 – 5
6 – 16
16+
Wanita hamil
-
-
-
6.0
5.5
<5.0
<5.5
<6.0
6.0-6.4
5.5-5.9
5.0+
5.5+
6.0+
6.5+
6.0+

2.      KVA (Kurang Vitamin A)
Kekurangan vitamin A (KVA) merupakan masalah kesehatan utama di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. KVA terutama sekali mempengaruhi anak kecil, diantara mereka yang mengalami defisiensi dapat mengalami xerophthalmia dan dapat berakhir menjadi kebutaan, pertumbuhan yang terbatas, pertahanan tubuh yang lemah, eksaserbasi infeksi serta meningkatkan resiko kematian. Hal ini menjadi nyata bahwa KVA dapat terus berlangsung mulai usia sekolah dan remaja hingga masuk ke usia dewasa.
Meskipun konsekuensi kesehatan dari KVA tidak digambarkan dengan baik di atas anak usia dini, namun data terakhir menunjukkan bahwa KVA pada wanita usia reproduksi dapat meningkatkan resiko kesakitan dan kematian selama kehamilan dan  periode awal postpartum. KVA yang berat pada maternal juga memberikan kerugian bagi anak baru lahir karena dapat akibatkan peningkatan kematian dibulan pertama kehidupan. Sebagai konsekuensi dari meningkatnya pemahaman tentang  KVA maka sangat penting bahwa beban kesehatanyang dihasilkan dikuantifikasi setepat mungkin, sebagai dasar tindakan dan pemantauan sertaevaluasi program pencegahan selanjutnya. 
KVA pada anak biasanya terjadi pada anak yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) atau Gizi buruk sebagai akibat asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. Anak yang menderita KVA mudah sekali terserang infeksi seperti infeksi saluran pernafasan akut, campak, cacar air, diare dan infeksi lain karena daya tahan anak tersebut menurun. Namun masalah KVA dapat juga terjadi pada keluarga dengan penghasilan cukup. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua / ibu tentang gizi yang baik. Gangguan penyerapan pada usus juga dapat menyebabkan KVA walaupun hal ini sangat jarang terjadi. Kurangnya konsumsi makanan (< 80 % AKG)  yang berkepanjangan akan menyebabkan anak menderita KVA, yang umumnya terjadi karena kemiskinan, dimana keluarga tidak mampu memberikan makan yang cukup. Sampai saat ini masalah KVA di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius.

Table 2.1. Penentuan Masalah Kesehatan Masyarakat (KVA)
Indikator yang digunakan
Batas Prevalensi
Plasma Vitamin A >= 10 µg/dl
Liver Vitammin A >= 5 µg/dl
>=5%
>=5%

3.      GAKY
Gangguan akibat kekurangan yodium (iodine deficiency disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan yodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid mengakibatkan timbul gondok, hipotiroid, kretin, gangguan reproduksi, kematian bayi dan keterbelakangan mental. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKI) adalah sekumpulan  gejala atau kelainan yang ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara terus – menerus dalam waktu yang lama yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup (manusia dan hewan).
Defisiensi yodium merupakan penyebab dominan gondok endemik yang diklasifikasikan menurut ekskresi yodium dalam urin (µg/gr kreatinin), antara lain :
a.       Tahap 1 : gondok endemik dengan rata-rata >50 µg/gram kreatinin dalam urin. Pada keadaan ini suplai hormon tyroid cukup untuk perkembangan fisik dan mental yang normal.
b.      Tahap 2 : gondok endemik dengan rata-rata 25-50 µg/gram kreatinin dalam urin. Pada kondisi ini sekresi hormon tyroid boleh jadi tidak cukup, sehingga menanggung resiko hypotyroidisme, tetapi tidak sampai ke kreatinisme.
c.       Tahap 3 : gondok endemik dengan rata-rata ekskresi yodium dalam urin kurang dari 25 mg/gram kreatinin. Pada kondisi ini populasi memiliki resiko menderita kreatinisme.

4.      AGB (Anemia Gizi Besi)
Anemia gizi adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin. Prevalensi anemia paling tinggi pada ibu hamil (70%) dan pekerja berpenghasilan rendah (40%). Pada anak sekolah sekitar 30% dan pada anak balita sekitar 40%.
Tabel 4.1. Batasan Hemoglobin Darah
Kelompok
Batas nilai Hb
Bayi / balita
Usia sekolah
Ibu hamil
Pria dewasa
Wanita dewasa
11 g/dl
12 g/dl
11 g/dl
13 g/dl
12 g/dl

Tabel 4.2.  Batasan Anemia (Menurut Depkes)
Kelompok
Batas Normal
Anak balita
Anak Usia sekolah
Wanita dewasa
Laki-laki dewasa
Ibu hamil
Ibu menyusui > 3 bulan
11  gram %
12  gram %
12 gram %
13  gram %
11 gram %
12    ram %

5.      OBESITAS
Obesitas atau kegemukan mempunyai pengertian yang berbeda-beda bagi setiap orang. Terkadang kita sering dibuat bingung dengan pengertian obesitas dan overweight, padahal kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20% dan 25% dari berat tubuh dan dapat membahayakan kesehatan.
Beberapa faktor utama penyebab kegemukan dan obesitas adalah genetik, fisiologis, makanan, dan perilaku (gaya hidup). Dua faktor terakhir dapat dimodifikasi untuk menurunkan berat tubuh. Kenaikan berat badan akibat konsumsi lemak berlebihan akan berdampak buruk bagi tekanan darah. Mereka menjadi lebih rentan terhadap masalah hipertensi. Selanjutnya hipertensi dan kegemukan ini dua-duanya menjadi penyumbang faktor resiko munculnya penyakit jantung koroner (PJK).
Secara biokimia, penentuan lemak dalam tubuh :
Menggunakan Bio – Impedance analisis (BIA) untuk mengukur prevalensi massa lemak / FM (%) dan massa lemak bebas/ FFM (kg), biasanya digunakan di negara maju.
Di negara maju, penentuan lemak dalam tubuh dilakukan denganmenggunakan Bio – Impedance analisis (BIA) untuk mengukur prevalensi massa lemak / FM (%) dan massa lemak bebas/ FFM (kg). Berikut adalah cara mengukurnya:
Segal (S) menggunakn BIA, memvalidasi pada populasi kulit putih dan hitam :
FFMs = {3.43+(0.45xH2/Z100)+0.14xW}/0.74
Kemudian Desport merumuskan :
FM (%) = 100 X ( 4.95/ D-4.5 )
Zillikens (Z) menghitung FFM dengan acuan tinggi dan berat badan :
FFMz (kg) = {3.751+ (0.59xH2/Z50)}/0.74

Druenberg (D), membedakan berdasarkan sex/kelamin :
FFMo =3.9 + (0.672 x H2/Z50) + ( 3.1 x sex )
Keterangan:
Z50 : Start pengukuran dengan Bio-impedance meter pada 50KHz
H : tinggi (m)
W : Berat badan (kg)
Sex : laki – laki =1, wanita = 0
D : faktor Durenberg
B.       KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMERIKSAAN BIOKIMIA
1.         Keunggulan
Pemeriksaan biokimia bila dibandingkan dengan pemeriksaan lain dalam penentuan status gizi memiliki keunggulan-keunggulan antara lain :
a.       Dapat mendeteksi defisiensi zat gizi lebih dini
b.      Hasil dari pemeriksaan biokimia lebih obyektif, hal ini karena menggunakan peralatan yang selalu ditera dan pada pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga ahli
c.       Dapat menunjang hasil pemeriksaan metode lain dalam penilaian status gizi
2.      Kelemahan
Selain memiliki keunggulan, pemeriksaan biokimia juga memiliki kelemahan, diantaranya :
a.       Pemeriksaan biokimia hanya bisa dilakukan setelah timbulnya gangguan metabolisme.
b.      Membutuhkan biaya yang   cukup mahal.
c.       Dalam melakukan pemeriksaan diperlukan tenaga ahli.
d.      Kurang praktis dilakukan dilapangan, hal ini karena pada umumnya pemeriksaan laboratorium memerlukan peralatan yang tidak mudah dibawa kemana-mana.
e.       Pada pemeriksaan tertentu spesimen sulit untuk diperoleh, misalnya penderita tidak bersedia diambil darahnya.
f.       Membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih banyak dibandingkan dengan pemeriksaan lain.
g.      Belum ada keseragaman dalam memilih reference (nilai normal). Pada beberapa reference nilai normal tidak selalu dikelompokkan menurut nkelompok umur yang lebih rinci.
h.      Dalam beberapa penentuan pemeriksaan laboratorium memerlukan peralatan laboratorium yang hanya terdapat dilaboratorium pusat, sehingga didaerah tidak dapat dilakukan.






DAFTAR PUSTAKA
Supariasa, I Dewa Nyoman, Bakri, Bachyar, Fajar, Ibnu. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC
__________, eprints.uny.ac.id/7718/3/BAB%202%20-%2008603141021.pdf  Diakses pada 15 Oktober 2013
__________,lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122525-S%205254-Faktor...pdf  Diakses pada 15 Oktober 2013
__________,lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126104-S-5830-Kejadian%20KEP...pdf Diakses pada 15 Oktober 2013
__________,core.kmi.open.ac.uk/download/pdf/12345200 - Cache. Diakses pada 15 Oktober 2013
Meawati, Tita. 2013. Kekurangan vitamin A. http://titamenawati.blogspot.com/2013/08/kekurangan-vitamin-kva_26.html. Diakses pada 16 Oktober 2013
Hasanah. 2009. Penilaian Status Gizi secara Biokimia. http://hasanah619.wordpress.com/2009/12/26/penilaian-status-gizi-secara-biokimia/ Diakses pada 16 Oktober 2013

Yunita. 2012. Obesitas. http://yunita3504.wordpress.com/obesitas/. Diakses pada 16 Oktober 2013